:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-gray-landscape.png,20,289,0)/kly-media-production/medias/1934686/original/055568100_1519548793-iStock-680835060.jpg)
Hasil temuan tersebut membuat para ahli yang tak ikut dalam studi ini mengatakan penelitian ini memiliki sejumlah kelemahan. Lalu, bisa mendorong pria melakukan tindakan medis yang tidak perlu.
Salah satu kelemahan utama adalah penelitian itu tidak ditelaah atau dipublikasikan dalam jurnal medis. Sebaliknya, temuan penelitian tersebut dipresentasikan awal bulan ini selama sesi poster di sebuah konferensi untuk American Society for Reproductive Medicine di Denver, Amerika Serikat.
"Ada sejumlah faktor - ukuran sampel, distribusi sampel, ukuran hasil, - yang dapat digunakan untuk menentukan validitas penelitian dan dibuatnya kesimpulan," kata Daniel Kort, yang bersertifikat ganda dalam kebidanan dan kandungan, serta endokrinologi reproduksi dan infertilitas kepada Healthline.
Menurut Kort, belum ada penelitian lain yang meneliti teori keseragaman ukuran. Tak hanya itu, sperma juga dihasilkan pada testis, bukan penis.
Dr. Paul Turek, ahli urologi bersertifikat dan ahli kesehatan dan kesuburan seksual pria serta pendiri dan direktur Klinik Turek di Los Angeles, San Francisco, dan Silicon Valley, memiliki kekhawatiran serupa.
Menurutnya penelitian itu terlalu banyak bias, serta mengabaikan peran wanita. Karena wanita juga bisa menjadi alasan tidak memiliki anak. "Di luar masalah integritas ilmiah, ini tidak masuk akal secara biologis," kata Turek.
from Berita Hari Ini, Kabar Harian Terbaru Terkini Indonesia - Liputan6.com https://ift.tt/2JaBcS4
No comments:
Post a Comment